Sabtu, 15 Januari 2011

MENGKRITISI MAKALAH YANG BERJUDUL “PENDIDIKAN NABI IBRAHIM DAN ANAKNYA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN” (Q.S. al-Shafat : 102 – 107) Karangan Prof. Dr. Budiharjo, M.Ag

MENGKRITISI MAKALAH YANG BERJUDUL
“PENDIDIKAN NABI IBRAHIM DAN ANAKNYA
DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN”
(Q.S. al-Shafat : 102 – 107)
Karangan Prof. Dr. Budiharjo, M.Ag
Oleh : M. Muhtarom
Setelah penulis membaca dan mengkaji makalah tersebut di samping menerangkan pendidikan Ibrahim dan anaknya dalam perspektif Al Qur’an juga mengkaitkan terhadap aspek-aspek dunia pendidikan, maka hemat penulis makalah tersebut lebih tepat dengan menggunakan judul “PENDIDIKAN IBRAHIM DAN ANAKNYA MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN TERHADAP ASPEK PENDIDIKAN”
Pada Bab Pendahuluan , pengarang mengungkapkan bahwa Al Qur’an memberikan kebebasan berpikir dan menghargai kekuatan akal dan manusia dapat menggunakan akal secara baik dan benar melalui proses dalam kehidupannya yang dinamakan pendidikan.
Untuk memperkuat pernyataan tersebut di atas penulis mengutip pernyataan Ibn Al-Khaldun, yang mengatakan bahwa; ilmu dan pendidikan adalah merupakan salah satu gejala sosial yang menjadi ciri khas insani . Proses pendidikan akan mampu menciptakan manusia yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, sehingga mampu menangkap kebenaran-kebenaran yang Allah berikan melalui Al Qur’an.
Hal ini dapat dibuktikan bahwa Al Qur’an enggan menerima orang-orang yang buta akal dan hatinya. Dasar yang digunakan sebagai rujukannya adalah Q.S. al-Zumar : 9, akan lebih lengkap lagi bila disertai dengan rujukan Q.S. al Hajj: 54, yang artinya:
            
“Dan orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa (Al Qur’an) itu benar dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tuduk kepada-Nya, …” .
Dengan menggunakan dasar ayat tersebut akan jelas kita ketehui bahwa kemampuan mengetahui kebenaran dari Allah sangat bergantung pada kemampuan pengetahuan dan akal seseorang. Kemampuan intektual akan mendatangkan kemanfaatan sebesar-besarnya bila dilandasi oleh keimanan dan kebaikan akhlak dan kebersihan hatinya. Dengan kata lain Konsep pendidikan dalam Al Qur’an adalah berupa keseimbangan kematangan intelektual, kematangan spiritual dan kematangan emosional. Sehingga paradigma pendidikan dalam Al Qur’an yang tidak lepas dari tujuan Allah menciptakan manusia itu sendiri, yaitu pendidikan penyerahan diri secara ikhlas kepada Allah yang mengarah pada tercapainya kebahagiaan hidup dunia maupun akherat akan dapat terwujud.
Pada bagian pengertian anak, pengarang telah menguraikan asal kata anak berasal dari bahasa arab ibn dan walad dan penertian kata keduanya dengan sangat terinci sekali. Namun belum menyampaikan hadis tentang tiga macam pengertian orang tua, sebagaimana hadis yang intinya mengatakan bahwa orang tua ada tiga, (1) orang tua yang melahirkannya, (2) orang tua yang menikahkannya/mertua, (3) orang tua yang mendidiknya/guru.
Dengan mengungkapkan hadis Nabi tersebut, akan diketahui posisi anak dan pengertian anak serta eksistensi orang tua sebagai; (1) sesuatu yang mejadikan sebab lahirnya, (2) sesuatu yang ia harus mengabdikan atas tanggungjawab yang diberikan, (3) segala sesuatu yang dihasilkan dari satu arah atau dari pendidikan (guru).
Pada bagian Ibrahim sebagai imam, pengarang menyimpulkan pengertian imam adalah sebagai pemimpin dan teladan. Nabi Ibrahim jika dihubungkan dengan pendidikan, menunjukkan bahwa dia sebagai pendidik dalam melaksanakan tuagasnya, tidak suka menunda-nunda kewajiban, menjadi teladan yang baik(uswatun hasanah) serta dapat diikuti perkataan dan perbuatannya. Hal ini hemat penulis akan lebih memiliki kekuatan dari tingkat efektifitas penerapan konsep yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dari aspek pendidikan bila dilengkapi dengan contoh-contoh kongkrit keberhasilan pendidikan di pondok pesantren oleh kyai al-salafu al-shaleh terhadap santri-santrinya, yang lebih mengutamakan faktor keteladanan yang dapat disaksikan langsung oleh santri sehubungan dengan menyatunya kehidupan kyai dengan santri.
Kyai mampu membangun dan meletakkan doktrin yang menyangkut prinsip-prinsip dasar keberagamaan Islam yang bersifat statis. Pendoktrinan ini sangat diperlukan menurut Abdullah (dalam Mulkhan, et. Al, 1998) .
Akan sangat berbeda bilamana dibandingkan dengan model pendidikan di lembaga-lembaga formal yang cenderung kurang mengutamakan aspek keteladanan dan hanya menekankan kemampuan keilmuan belaka, sehingga tidak heran lagi bilamana anak didik hanya memiliki kemampuan pengetahuan yang tinggi, namun kurang memiliki kepribadian dan akhlak yang rendah, serta tidak memiliki hubungan emosional antara anak didik dengan pendidik yang kuat.
Pada bagian Pendidikan Ibrahim dan Anaknya, pengarang memeparkan langkah-langkah yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam proses pendidikan Ismail yang meliputi:
1. Berdoa
2. Dialog
3. Taat perintah dan sabar
4. Pasrah
5. Menerima cobaan dan berkurban
Dari langkah-langkah yang ditempuh Nabi Ibrahim tersebut bila dilihat dari aspek pendidikan, maka penulis menyimpulkan bahwa;



Seorang pendidik harus memiliki :
1. Keikhlasan dalam mendidik dan senantiasa memiliki hubungan emosional yang kuat dengan peserta didik sehingga selalu mendoakannya kepada Allah agar berhasil menjadi seorang yang ‘alim dan shalih.
2. Mengedepankan dialog dan musyawarah antara pendidik dan peserta didik maupun antara peserta didik itu sendiri dalam proses pendidikannya. Sebagaimana yang diungkapkan Abu Hanifah, seyogyanya seorang pelajar suka bermusyawarah, karena Allah memerintahkan Rasul memusyawarahkan segala hal. Tidak ada yang lebih pandai dari beliau, beliau masih diperintahkan untuk bermusyawarah.
3. Sabar menghadapi tantangan dan problematika pendidikan.
4. Memiliki jiwa yang tangguh dan mau mengorbankan segala sesuatu demi tercapainya proses pendidikan yang dilakukannya.
Sedangkan seorang siswa/peserta didik harus memiliki 6 hal , yang akan mendorong keberhasilannya dalam belajar, yaitu :
1. Kecerdasan/potensi
2. loba (thama’ akan ilmu)
3. penuh kesabaran
4. memiliki sarana kebutuhan pendidikan(biaya)
5. dengan perantaraan guru/ sebagai pendidik
6. ketersediaan waktu dan kesempatan
Yang belum dibahas oleh pengarang adalah dari proses mimpi yang dialami Nabi Ibraim untuk menyembelih anaknya sempai tiga malam berturut-turut, dan baru menyimpulkan bahwa mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi biasa melainkan benar-benar perintah Allah. Hal ini bila dilihat dari aspek pendidikan mempunyai maksud pendidik harus memiliki kematangan intuisi dan kematangan program serta kematangan menguasai materi yang hendak ditranformasikan kepada peserta didik. Sebab salah satu indikator kegagalan dalam proses pendidikan adalah ketidak matangan seorang pendidik dalam penguasaan materi pendidikan yang akan ditranformasikan kepada peserta didik.
Demikian kajian dan kritisi yang dapat penulis ungkapkan, karena keterbatasan penulis, tentunya masih banyak kekurangannya. Dengan harapan semoga bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi pembaca. Amin

















DAFTAR REFERENSI

Marasudin Siregar, (Konsep Pendidikan Ibnu Khaldun), Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Semarang, 1999

Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Cahaya Qur’an (Penerbit Al Qur’an Tjwid pertama di Indonesia), Depok, 2008

Muhaimain,Dr, MA, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Surabaya, 2004

Aliy As’ad, Terjemah al-Ta’limu al-Muta’allim, Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan, Menara Kudus, Kudus, 1978

Tidak ada komentar:

Posting Komentar